Terima Kasih  Atas  Informasi,  Saran  Dan  Kritik  Anda ----- Melalui  Email : bangher7474@yahoo.co.id 

 

Tampilkan postingan dengan label KESEHATAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KESEHATAN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Juni 2010

Penyakit DBD Serang Sembilan Warga

INDRAMAYU, (PRLM).- Sedikitnya sembilan balita dan pelajar SD terserang penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue) dengan waktu hampir bersamaan, Kamis-Jumat (17/6-18/6). Kesembilan korban merupakan penduduk satu Rukun Tetangga (RT) yakni RT.04/RW.01, Desa Pegagan, Kec. Losarang, Kab. Indramayu. Beruntung serangan penyakit itu tidak menelan korban jiwa.

Adanya wabah penyakit ini dibenarkan oleh Dulhalil (40) Ketua RT setempat yang dihubungi "PRLM", Jumat (18/6). Menurutnya, anak-anak yang terserang penyakit demam berdarah tersebut tinggal pada satu RT. Rata-rata gejala penyakit yang menyerang korban adalah, suhu badannya tinggi dibarengi demam tinggi, muntah, perut sakit. Bahkan disertai mimisan dan keluarnya bintik-bintik merah pada permukaan kulit mereka.

"Penderita DBD yang terakhir adalah dua orang yakni Edi dan Rusdi, anak dari Casdam (34). Kedua mengeluh sakit dengan gejala yang sama yaitu suhu badannya tinggi. Kondisi ini tentunya sangat mencemaskan orang tuanya. Karena faktor ekonomi keluarga akhirnya kedua anak tersebut dilarikan ke puskesmas untuk berobat," ujarnya.

Sementara itu Casdam, orang tua Edi dan Rusdi yang terkena DBD mengatakan, Anaknya sakit lantaran panas tinggi yang dideritanya tidak turun-turun. Meski telah berusaha mengobatinya. Namun penyakit yang diderita anaknya masih tetap saja. "Tadinya saya pikir anak saya sakit biasa. Tapi setelah melihat anak tetangga juga kena DBD, maka saya langsung membawanya berobat," tuturnya

Melihat kondisi ini, warga mengharapkan kepada dinas terkait khusunya di Seksi P3M (Pemberantasan dan Penanggulangan Penyakit Menular) pada Dinas Kesehatan Kab. Indramayu secepatnya untuk turun tangan dan melakukan pengasapan atau 'fogging' di sekitar rumah korban guna membunuh nyamuk-nyamuk aedes agypti penyebar virus DBD. Disamping mengharapkan agar Dinkes membagikan bubuk abate untuk membunuh jentik-jentik nyamuk.

Ditempat terpisah, salah satu dokter jaga di UGD RSUD Indramayu, dr.Johari mengatakan, penyebab penyakit itu bukan saja bersumber dari hujan. Namun perilaku warga akan kesehatan keluarga serta lingkungannya juga ikut mempengaruhi. (udi/das)***

sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/node/116154

Selasa, 30 Maret 2010

Aneka Khasiat Cabai Rawit

Selasa, 30 Maret 2010 | 12:15 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Cabai rawit memang pedas. Namun, pendamping tempe goreng ini memiliki banyak khasiat pengobatan. Bukan cuma rematik, radang beku atau frostbite yang sering terjadi di daerah ketinggian atau bersalju itu pun bisa diatasi.

Cabai rawit kadang ditanam orang di pekarangan sebagai tanaman sayur atau tumbuh liar di tegalan dan tanah kosong yang telantar. Tanaman budidaya ini berasal dari daerah Amerika tropis, lebih suka tumbuh di daerah kering, serta ditemukan pada ketinggian 0,5-1.250 m di atas permukaan laut.

Buahnya digunakan orang sebagai sayuran, bumbu masak, acar, dan asinan. Daun mudanya biasa dikukus untuk dijadikan lalap. Tanaman bernama Latin Capsicum frutescens ini terdiri atas tiga varietas. Pertama, cengek leutik. Buahnya kecil, berwarna hijau, dan berdiri tegak pada tangkainya. Kedua, jenis cengek domba (cengek bodas). Buahnya lebih besar dari cengek leutik, berwarna putih, dan menjadi jingga pada saat masak. Ketiga, ceplik. Buahnya besar, berwarna hijau, dan menjadi merah pada saat tua. Berdasarkan teori pengobatan Traditional Chinese Medicine (TCM), tanaman bernama Cina La jiao ini mempunyai rasa pedas, sifatnya panas, dan masuk dalam meridian jantung dan pankreas. Menurut Dr Budi Sugiarto Widjaja, TCM, dari Klinik Beijing, Jakarta, cabai rawit merah berkhasiat sebagai tonik dan stimulan kuat untuk jantung dan aliran darah, juga obat rematik. Gilingan cabai rawit dapat menghancurkan bekuan darah (antikoagulan) dan mengatasi gangguan rematik dan radang beku. Cabai rawit bisa meningkatkan nafsu makan (stomakik), perangsang kulit, peluruh kentut (karminatif), serta peluruh keringat (diaforetik), air liur, dan air kencing (diuretik). Mengandung Antioksidan Menurut Dr Setiawan Dalimartha, anggota Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional (SP3T) DKI Jakarta, di dalam buah cabai rawit terkandung kapsaisin, kapsantin, karotenoid, alkaloid atsiri, resin, minyak menguap, serta vitamin A dan C. Kapsaisin memberikan rasa pedas pada cabai, berkhasiat melancarkan aliran darah serta sebagai pemati rasa kulit. Biji tanaman bernama daerah lombok jempling (Madura), cabe rawit (Jawa), leudeu jarum (Gayo), rica halus (Manado), metrek wakfoh (Papua) ini, kata Dr Setiawan, mengandung solanine, solamidine, solamargine, solasodine, solasomine, dan steroid saponin (kapsisidin). Kandungan terakhir ini berkhasiat sebagai antibiotik. Saat disantap, rasa pedas di lidah dapat menimbulkan rangsangan ke otak untuk mengeluarkan endorfin (opiate endogen). Hasilnya, rasa sakit hilang dan timbul perasaan lebih sehat. Pada sistem reproduksi, sifatnya yang panas dapat mengurangi rasa tegang dan sakit akibat sirkulasi darah yang buruk. Salah satu hasil penelitian, kata Dr Setiawan, cabai rawit diketahui memiliki khasiat mengurangi terjadinya penggumpalan darah (trombosis) dan menurunkan kadar kolestrol. Satu hal lagi, banyaknya kandungan zat antioksidan (seperti vitamin C dan betakaroten), dapat digunakan untuk mengatasi ketidaksuburan (infertilitas), afrodisiak, dan memperlambat proses penuaan. Masalahnya, tidak setiap orang boleh mengonsumsi cabai rawit secara berlebihan. Pengidap sakit tenggorokan, sakit mata, dan penderita gangguan saluran pencernaan, kata Dr Setiawan, tidak dianjurkan mengonsumsi cabai rawit. Penelitian yang dilakukan Tyas Ekowati Prasetyoningsih dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Jawa Timur, pada 1987, menyebutkan, ekstrak buah cabai rawit mempunyai daya hambat terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans, yaitu jamur pada permukaan kulit. Daya hambat ekstrak cabai rawit 1 mg/ml setara dengan 6,20 mcg/ml nistatin dalam formamid. Dr Setiawan menambahkan, cabai rawit indikasinya digunakan untuk menambah nafsu makan, menormalkan kembali kaki dan tangan yang lemas, melegakan rasa hidung tersumbat pada sinusitis, mengurangi batuk berdahak, dan meredakan migrain. Empat Resep Ramuan La Jiao Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan khasiat cabai rawit. Bisa dengan cara merebusnya atau dibuat bubuk dan pil. Untuk pemakaian luar, cukup dengan merebusnya, lalu uapnya dipakai memanaskan bagian tubuh yang sakit. Cara lain, kata Dr Setiawan, dengan menggiling cabai rawit hingga halus, kemudian membalurkannya di bagian yang sakit. Cara terakhir ini bisa digunakan untuk gangguan rematik dan frostbite (jari nyeri karena kedinginan). Daunnya bisa digiling untuk dibalurkan di daerah yang sakit guna mengatasi sakit perut dan bisul. Berikut empat resep yang ditawarkan Dr Setiawan: 1. Rematik Bahan: 15 cabai rawit, 1/2 sendok teh kapur sirih, 1 jeruk nipis Pemakaian: Cabai rawit digiling hingga halus, jeruk nipis dibelah dua, ambil airnya. Campur gilingan cabai, kapur sirih, dan perasan jeruk nipis, aduk hingga rata. Balurkan ramuan tersebut pada bagian tubuh yang sakit. Lakukan hingga penyakit sembuh. 2. Sakit perut Bahan: 15 gr daun muda cabai rawit, 1/2 sendok teh kapur sirih Pemakaian: Cuci bersih daun cabai, giling hingga halus. Tambahkan kapur sirih, aduk hingga rata. Balurkan ramuan pada bagian perut yang sakit. Lakukan pengobatan 1-2 kali saja. 3. Kaki dan tangan lemas (lumpuh) Bahan: 2 bonggol akar cabai rawit, 15 pasang cakar ayam, 60 gr kacang tanah, 6 butir hungcao Pemakaian: Bersihkan semua bahan, lalu potong-potong seperlunya. Tambahkan air dan arak sama banyaknya hingga bahan-bahan terendam kira-kira 1 cm di atasnya. Ramuan tersebut dimasak dengan cara ditim. Setelah dingin, saring airnya, minum sehari dua kali, masing-masing setengah dari ramuan tersebut. 4. Frostbite Bahan: 5 cabai rawit segar Pemakaian: Buang biji cabai rawit, giling hingga halus. Balurkan ke bagian yang sakit. @ Hendra Priantono

Sumber: http://kesehatan.kompas.com/read/2010/03/30/12154246/Aneka.Khasiat.Cabai.Rawit.

Sabtu, 08 Agustus 2009

Pasien DBD di RSUD Indramayu Membludak INDRAMAYU--Seiring dengan meningkatnya curah hujan sepanjang Desember 2008, masyarakat di Kabupaten Indramayu harus mewaspadai penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Pasalnya, penyebaran penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti tersebut semakin meningkat. Hal itu seperti yang terlihat dari banyaknya jumlah pasien DBD di RSUD Indramayu. Berdasarkan data di ruang perawatan anak rumah sakit tersebut, Ahad (14/12), jumlah pasien DBD sejak 1 Desember – 14 Desember telah mencapai 58 anak. Dari jumlah itu, tiga anak diantaranya bahkan meninggal dunia karena kondisinya yang sudah sangat parah. ‘’Saat pertama kali datang ke rumah sakit, ketiga pasien tersebut sudah dalam kondisi syok dan trombosit yang sangat rendah,’’ ujar salah seorang perawat di ruang perawatan anak yang enggan disebut namanya, Ahad (14/12). Tak hanya pada Desember, peningkatan jumlah pasien DBD yang dirawat di RSUD Indramayu juga telah mulai terjadi sejak November 2008. Sepanjang November 2008, jumlah pasien yang menderita penyakit yang disebabkan virus Dengue itu telah mencapai 44 orang. Dari jumlah tersebut, pasien yang meninggal dunia mencapai lima orang. Namun, peningkatan jumlah pasien DBD itu tidak sampai membuat pihak rumah sakit menyediakan tempat tidur tambahan. Seluruh pasien masih dirawat di ruang perawatan yang telah tersedia. Salah seorang ibu kandung pasien Faridah (9) yang bernama Hujaenah (36), menjelaskan, anaknya itu dirawat di rumah sakit sejak Rabu (10/12). Dia mengatakan, anaknya tersebut menderita panas tinggi dan trombosit darah yang rendah. ‘’Saya segera membawanya ke rumah sakit karena khawatir panas badannya tidak turun-turun,’’ kata Hujaenah, yang tinggal di Kelurahan Lemahabang, Kecamatan Indramayu. Hal senada diungkapkan ibu kandung pasien lainnya Watiah (13), yang bernama Nursinah (37). Dia mengungkapkan, anaknya pun menderita panas tinggi selama berhari-hari. ‘’Selain anak saya, banyak anak lainnya di desa kami yang juga mengalami gejala penyakit DBD,’’ tutur Nursinah, yang merupakan warga RT 15 RW 03 Desa Legok, Kecamatan Lohbener. Salah seorang dokter jaga di RSUD Indramayu, dr Iwan Nurwinar, mengatakan, peningkatan jumlah pasien DBD tersebut memang cukup memprihatinkan. Apalagi, sambung dia, hampir seluruh pasien merupakan anak-anak. ‘’Penyebaran penyakit DBD ini memang dipengaruhi oleh banyak factor, diantaranya musim penghujan,’’ tandas Iwan. Menurut Iwan, turunnya hujan akan menimbulkan genangan air di tempat-tempat penampungan air yang terbuka. Padahal, terang dia, tempat penampungan air yang terbuka itu menjadi tempat bertelurnya nyamuk Aedes Aegypti. Karena itulah, tandas Iwan, masyarakat harus menggiatkan kembali program 3M (mengubur, menguras, menutup). Dengan cara tersebut, sambung dia, nyamuk tidak memiliki tempat untuk bertelur sehingga dapat menurunkan perkembangbiakan nyamuk yang memiliki ciri-ciri belang hitam dan putih pada tubuhnya tersebut. Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ind ramayu, dr Suwardi, saat dikonfirmasi, membenarkan adanya peningkatan jumlah penderita penyakit DBD. Dia mengungkapkan, salah satu pemicunya memang musim penghujan yang menimbulkan banyaknya genangan air. Untuk mencegah semakin meningkatnya serangan penyakit DBD, Suwardi menjelaskan, pihaknya telah menggiatkan penyuluhan kepada masyarakat mengenai kebersihan lingkungan. Selain itu, masyarakat pun diimbau untuk melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) seperti yang telah diinstruksikan oleh bupati Ind ramayu. ‘’Kegiatan PSN secara rutin dilakukan setiap Jumat,’’ kata Suwardi saat dihubungi Republika melalui telefon selulernya. Ketika disinggung mengenai pelaksanaan fogging (penyemprotan), Suwardi mengatakan, hal itu dilakukan secara bergilir. Menurut dia, pelaksanaan fogging terutama dilakukan di daerah-daerah yang memang terdapat penderita yang telah dinyatakan positif terserang DBD. ‘’Setiap hari kita muter kok melakukan fogging secara bergilir. Kalau ada daerah yang belum di-fogging, itu berarti belum gilirannya,’’ tandas Suwardi. lis/pt By Republika Newsroom Minggu, 14 Desember 2008 pukul 20:19:00

Pelayanan Masyarakat Miskin Masuk Prioritas

(20 Februari 2008) Jakarta, 20/2/2008 (Kominfo Newsroom) – Pembangunan Kesehatan kurun waktu 2005-2009 lebih memprioritaskan pada upaya-upaya kesehatan ibu dan anak, pelayanan kesehatan masyarakat miskin, pendayagunaan tenaga kesehatan, dan penanggulangan penyakit menular. “Selain itu, juga masalah gizi buruk dan krisis kesehatan akibat bencana, serta peningkatan pelayanan kesehatan di daerah terpencil, tertinggal, daerah perbatasan, dan pulau-pulau terluar,” kata Menkes Siti Fadillah Supari dalam laporannya pada rapat terbatas yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Depkes, Rabu (20/2). Rapat terbatas bidang kesehatan itu, juga dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla, para Menko, para menteri di lingkungan Kementerian Kesra, Menkominfo Muhammad Nuh, Kepala BKKBN, Kepala Badan POM, Pejabat Eselon I dan II Depkes serta Direktur RS Vertikal. Menurut Menkes pembangunan kesehatan yang telah dicapai sampai tahun 2007 adalah angka kematian bayi (AKB) telah dapat diturunkan dari 30,8 per 1.000 kelahiran hidup (KH) pada tahun 2004 menjadi 29,4 pada tahun 2005, dan 28,1 pada tahun 2006 kemudian menjadi 26,6 pada tahun 2007. Untuk angka kematian ibu (AKI) berhasil diturunkan dari 270 per 100.000 KH pada tahun 2004 menjadi 262 pada tahun 2005, 255 pada tahun 266 dan 248 pada tahun 2007. Gizi kurang pada Balita berhasil diturunkan dari 25,8% pada tahun 2003 menjadi 24,7% pada tahun 2005, 23,6% pada tahun 2006 dan 21,9% pada tahun 2007. “Umur Harapan Hidup (UHH) berhasil ditingkatkan dari 66,2 pada tahun 2004 menjadi 69,8 tahun pada tahun 2005, 70,2 tahun tahun pada tahun 2006 dan 70,5 tahun pada tahun 2007,” kata Menkes. Pelayanan program jaminan kesehatan masyarakat miskin pada tahun 2007, tetap tinggi. Data sampai dengan bulan Novermber 2007 menunjukkan, rawat jalan tingkat lanjut di RS menurun dari 6,9 juta pada tahun 2006 menjadi 5 juta kunjungan pada tahun 2007. Penurunan kunjungan ini terjadi seiring makin baiknya sistem rujukan dan menurunnya moral hazard peserta program, sedangkan untuk rawat inap tingkat lanjut di RS tidak menunjukkan peningkatan atau penurunan yang bermakna, yaitu sekitar 1,5juta pasien pada tahun 2006 maupun 2007. Untuk pelayanan khusus bagi pasien miskin dengan diagnosa persalinan meningkat dari 374.468 pada tahun 2005 menjadi 501.622 kasus pada tahun 2006 dan 565.711 kasus pada tahun 2007. “Hemodialisa meningkat dari 4.862 pada tahun 2005 menjadi 5.418 kasus pada tahun 2006 dan 9.893 kasus pada tahun 2007,” kata Menkes. Operasi jantung meningkat dari 380 pada tahun 2005 menjadi 2.950 kasus pada tahun 2006 dan 4.743 kasus pada tahun 2007, operasi cesar meningkat dari 1.254 kasus pada tahun 2005 menjadi 7.141 kasus pada tahun 2006 dan 5.637 kasus pada tahun 2007. Laparatomi meningkat dari 162 pada tahun 2005 menjadi 983 kasus pada tahun 2006 dan 1.281 kasus pada tahun 2007, operasi kanker dari 780 kasus pada tahun 2005 menjadi 617 kasus pada tahun 2006 dan 542 kasus pada tahun 2007. Open Reduction Fraktur juga meningkat dari 96 kasus pada tahun 2005 menjadi 2.744 kasus pada tahun 2006 dan 18.428 kasus pada tahun 2007. Sementara itu, perkembangan penanggulangan penyakit menular juga telah mencapai hasil yang cukup menggembirakan. Kasus AIDS memang meningkat, ini menunjukkan surveilans yang baik, diikuti dengan upaya pengobatan dan pencegahan agar tidak menular. Angka kesakitan penyakit Tuberculosis (TB) menurun dari 107 per 100.000 pada tahun 2005 menjadi 102 per 100.000 penduduk pada tahun 2007. Angka kesakitan penyakit malaria juga menurun demikian pula dengan angka kematiannya, yakni dari 0,92 persen pada tahun 2005 menjadi 0,2 persen pada tahun 2007. Untuk kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), kata Menkes, memang meningkat dari tahun ke tahun akibat penanganan lingkungan yang kurang baik, namun demikian angka kematiannya dapat ditekan dari 1,36% pada tahun 2005 menjadi 1% pada tahun 2007. (T.Ad/toeb/c)

Pemerintah Akan Salurkan 1000 Paket Obat

(04 Juni 2007) Jakarta, 4/6/2007 (Kominfo-Newsroom) – Pemerintah akan tetap melanjutkan obat paket 1.000 sebagai program obat rakyat murah dan berkualitas, meskipun ada kekhawatiran dan ketakutan dari sejumlah produsen obat, namun pendisribusiannya akan dilakukan kepada Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) di seluruh Indonesia. Para produsen obat tidak perlu khawatir mengenai digulirkannya obat paket 1.000 oleh depkes, dan program ini tetap akan dilanjutkan namun pendistribusiannya lewat Poskesdes di seluruh Indonesia,” kata Menkes Siti Fadilah Supari pada rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI di gedung DPR/ MPR, Jakarta, Senin (4/6). Program obat paket 1.000 ini adalah obat bebas dan bebas terbatas yang bertujuan untuk pengobatan sendiri terhadap keluhan umum dengan harga Rp1.000. Obat ini merupakan obat yang dijual di apotek, toko obat atau pedagang eceran obat, toko dan warung. Juga bias terdapat di pos kesehatan desa. Sekarang ini sudah ada sebanyak 1.200 poskesdes yang ada di seluruh Indonesia, dan dengan begitu masyarakat diharapkan akan mudah mendapatkan obat tersebut, dan juga tidak akan merugikan pihak produsen. Menurut Menkes, obat seribu adalah obat otisi atau obat bebas. Jadi kalau dicari di toko bebas tidak ada, dan keberadaan obat paket 1000 ini akan tersebar dan manfaatnya bisa dirasakan oleh semua masyarakat di seluruh Indonesia mulai tiga sampai enam bulan kedepan. “Saat ini yang memproduksi obat 1.000 baru Indofarma, dan kami menganjurkan agar semua BUMN dapat memproduksi obat tersebut, sebab dengan memproduksi obat 1.000 BUMN sudah untung banyak, “ katanya. Namun, kendalanya adalah untuk mendistribusikan ke daerah itu sangat berat karena harganya tetap 1000. Menteri juga mengatakan, sebetulnya untuk daerah Jakarta obat murah ini sudah mulai beredar di pasaran, namun banyak spekulan yang membeli untuk kemudian dijual dengan harga yang lebih tinggi, Hal ini membuktikan bahwa produsen obat tidak suka dengan kehadiran obat murah dari pemerintah. “Ini merupakan salah satu hambatan di masyarakat, contohnya banyak produsen obat yang menyatakan beli obat yang mahal saja belum tentu menyembuhkan ngapain beli yang 1000,” jelasnya . Dengan begitu membuktikan produsen-produsen yang sudah berpuluh-puluh tahun ada tidak rela dengan adanya obat seribu ini, mereka menginginkan kalau bisa obat ini dibatalkan karena sangat menganggu pemasaran mereka, tapi depkes akan lanjut terus, tegasnya. Namun, depkes sedang mengantisipasi dengan mekanisme seperti apa, misalkan obat murah ini akan di drop kepada poskesdes-poskesdes di seluruh Indonesia. Dia menambahkan, perlu diketahui obat murah ini untuk orang-orang yang sangat miskin, karena mereka sudah mendapat jaminan, tetapi untuk orang-orang sadikin (sakit sedikit menjadi miskin). (T.wd/toeb/b)
 

INTERNASIONAL

SOSBUD

HUKUM

EKONOMI

REALITAS PUBLIK Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template